Kabupaten Bima Timur: Antara Cita dan Realita*

Oleh : Arifuddin Hamid**

BIMA-NTB

Wacana Pemekaran Wilayah

Persoalan pemekaran wilayah seakan menjadi trend dalam memahami konsepsi otonomi daerah. Pasca reformasi, euforia kedaulatan daerah termanifestasi lewat pembentukan kabupaten/kota maupun provinsi baru. Dalam fakta empiris, rezim Orde Baru terutama, memang menerapkan apa yang diistilahkan dengan pendekatan sentralistis (segalanya terpusat dari Jakarta). Semua hasil dan potensi sumber daya alam daerah dikeruk dan diperuntukkan (kenyataannya) bagi segelintir elit di Jakarta.

Pola kebijakan sentralistis tersebut kemudian menimbulkan resistansi, terutama dari elit-elit lokal yang merasa hak dan kewenangannya ”terbonsaikan”. Sehingga, otonomi daerah sebagai pemikiran dan sistem dirasa lebih bermartabat dan mampu mengakomodir kepentingan lokal (baca: daerah). Akhir yang terjadi, setiap kelompok masyarakat mengkonsolidir diri, membentuk pemerintahan baru. Sama sekali terpisah, baik dari administrasi pemerintahan maupun fakta geografis. Suatu daerah kemudian pecah dan terbagi menjadi beberapa daerah yang lebih kecil.

Secara konsepsi,

Continue reading

Semalam di Bajo-Pulau

Anak2 bajo

Anak2 bajo

Hey,ana sa iru*.
Kata ini mengalir halus dari seorang perempuan yang menyapa saya ketika pertama kali tiba di pelabuhan kecil Pulau Bajo.Saya kesana pergi berkunjung ke rumah Ua (sepupu Ibu) yang menikah dengan orang Bajo asli. Bahkan beberapa sepupu saya juga menikah dengan orang Bajo.

Desa “Bajo Pulau” masih merupakan bagian dari wilayah kecamatan Sape, Kabupaten Bima.Nusa Tenggara Barat.Pulau Bajo. Dengan komposisi masyarakat yang unik. Mayoritas masyarakatnya adalah orang Bajo.Tetapi telah mengalami asimilasi dan kulturasi dengan orang-orang Bima. Mayoritas agama mereka adalah Islam. Sama seperti orang-orang Bima pada umumnya.

Di pelabuhan sape

Di pelabuhan sape

Bajo..Goo..goo

Bajo..Goo..goo

Mengapa mereka unik??

Continue reading

Mengenal Bima

By: Asrarudin Hamid


Bima adalah nama sebuah daerah yang berlokasi di sisi timur provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Daerah ini tepatnya berada di ujung timur pulau Sumbawa. Di dekat pulau komodo.Yang kini telah terbagi menjadi kabupaten dan kota Bima.

Batas-batas umum wilayah sebagai Bima (Kabupaten dan Kota) adalah berikut :
Sebelah Utara-Laut Flores.
Sebelah Selatan-Samudera Indonesia
Sebelah Timur-Selat Sape
Sebelah Barat-Kabupaten Dompu. (Dompu dan Bima pada dasarnya “satu”. Yang memiliki bahasa , budaya (kultur) serupa dan lebih terkenal sebagai “Dou Mbojo”)

Secuil sejarah Bima

Menurut situs resmi kabupaten Bima, Kabupaten Bima (NB: Bima seperti apa yang kita lihat sekarang ini) sendiri berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun.

Tetapi dari beberapa literatur dan bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Hal ini tentunya tidak terlepaskan dari sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba (proto-melayu) dan bangsa Melayu baru (deuto Melayu).

Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.